METODOLOGI

 

PEMBANGUNAN KERANGKA SAMPLE AREA

JAWA BARAT

 

1.  Tahapan Pembangunan Kerangka Sample Area

Pembangunan Kerangka Sampe Area Jawa Barat untuk statistic pertanian tanaman pangan ini dilakukan menggunakan pendekatan kerangka sampel area dengan pengamatan titik.  Tahapan yang akan dilakukan dalam pembangunan kerangka sample area ini meliputi (1) Pengumpulan data pendukung, berupa peta administrasi yang berisi batas administrasi sampai level kecamatan untuk seluruh Provinsi Jawa Barat, Peta Baku Sawah, dan Peta Tutupan Lahan (2) Pembuatan kerangka studi dalam hal ini keangka sampel sawah dengan melakukan stratifikasi sawah (3) Pembuatan Grid 6 km x 6 km dan grid 300 m x 300 m untuk seluruh daerah penelitian yaitu Jawa Barat (4) Pembuatan Model sampling secara random (5) Melakukan ekstraksi sampel segmen (6) menumpang susunkan hasil stratified ransom sampling dengan kerangka sample sawah (7) seleksi segmen sampai terpilih segmen sesuai dengan criteria luas  (8) Pemberian atribut pada segmen terpilih, dan (9) pembuatan peta-peta yang menunjukkan keberadaan lokasi segmen terpilih. Alur kerja pembuatan kerangka sample area dapat dilihat pada gambar 3-1 dibawah.

 

2.  Pembangunan Kerangka Sample Area Jawa Barat

Penjabaran kerangka sampel area atau  ‘Area Frame Sampling’ dalam estimasi produksi tanamn pangan dalam hal ini padi dalam kegiatan ini diwujudkan dalam suatu pendekatan rancangan kerangka sampel areal berbasis titik pengamatan.  Prinsip dasar pendekatan ini adalah estimasi luasan yang didasarkan pada observasi langsung di lapangan terhadap tutupan lahan pada titik – titik pengamatan yang sudah ditentukan di dalam sampel-sampel terpilih.  Proporsi tutupan lahan pada sampel segmen tersebut kemudian diekstrapolasikan untuk memperoleh luasan populasi setiap jenis tutupan lahan.

Seperti yang sudah disampaikan pada bab sebelumya maka pada pada bab ini akan dijelaskan penentuan kerangka sample area berbasis titik dengan luas keranka sample area sebesar 300 x 300 m. Ukuran ini dipilih untuk dapat mengakomodir banyaknya dan sebaran segmen sampai kesemua level kecamatan.

 

flowcart pembangunan ksa.jpg

Gambar 3-1. Diagram Alir Pembangunan Kerangka Sampel Area

 

 

·         Pengumpulan Data dan Stratifikasi Lahan Sawah

Data yang dikumpulkan untuk pembangunan kerangka sample area ini terdiri dari, (1) data batas wilayah administrasi yang diperoleh dari peta administrasi sampai level kecamatan. Data administrasi ini sangat penting untuk mengetahui sebaran dan pembagian segmen tiap kabupaten sampai level kecamatan. (2) Peta Baku Sawah yang diperoleh dari Kementerian Pertanian, dan (3) peta tutupan lahan yang diperoleh dari Peta Rupa Bumi skala 1:25.000.

 Langkah berikutnya adalah melakukan stratifikasi dari data sawah yang diperoleh. Stratifikasi bertujuan untuk membagi populasi (Ω) berukuran N kedalam H sub-populasi yang tidak overlap (Ωh-strata)   berukuran Nh. Dengan stratifikasi diharapkan efisiensi baik yang berhubungan dengan keakuratan hasil maupun biaya akan dicapai.  Stratifikasi akan efisien apabila karakteristik dari elemen-elemen yang ada dalam setiap strata mempunyai sifat yang berdekatan dan sangat berbeda antar strata.  Kesamaan dan ketidaksamaan tersebut  berhubungan dengan obyek yang akan diestimasikan. Sebagai contoh, stratifikasi berdasar jenis tanah tidak akan cocok untuk estimasi luasan tanaman biji-bijian, jika petani memutuskan untuk berbudidaya biji-bijian walaupun tanahnya tidak optimal untuk berbudidaya. Secara klasik strata ditentukan agar supaya setiap segmen dari populasi jatuh dalam satu strata, sehingga tidak ada satu elemen yang dimiliki oleh dua atau lebih strata. Dalam kasus kerangka area, tidak ada segmen yang melangkahi batas antar strata. Pada umumnya, stratifikasi yang sama digunakan untuk semua tanaman yang diinginkan, tetapi penstrataan yang berbeda untuk setiap tanaman atau kelompok tanaman dapat memberikan hasil yang lebih baik walaupun hal tersebut lebih sulit untuk dikelola.  Namun dalam kegiatan ini, stratifikasi dibatasi pada satu jenis tanaman saja, yaitu tanaman padi.

Alat stratifikasi yang umum digunakan adalah peta topografi atau peta tematik, meliputi : penggunaan tanah, geologi, peta tanah.  Setiap strata yang diperoleh biasanya berbentuk satu atau beberapa poligon yang mempunyai ukuran relatif luas.  Jika data statistik tersedia untuk satuan geografi yang kecil, misalnya kabupaten, prosedur pengelompokan strata dapat dilakukan dengan  sejumlah poligon dengan ukuran kecil.

Sistem Informasi Geografis (GIS) merupakan alat untuk mengembangkan pengelolaan dari berbagai layer informasi yang berbeda.  Ketika menganalisis antar layer, hal yang perlu diperhatikan adalah untuk menghindari jumlah terlalu besar bagi poligon-poligon kecil berisi informasi yang salah.   Visual interpretation photo satelit beresolusi tinggi dengan dibantu oleh peta topografi atau peta penggunaan lahan adalah sistem yang paling banyak digunakan untuk stratifikasi. 

Dalam aktivitas stratifikasi dimaksudkan untuk mengetahui informasi secara datail mengenai kenampakan lingkungan, aspek pengelolaan, dan input (pupuk, air, varietas dan lain-lain). Namun dengan kendala-kendala yang ada, aktivitas tersebut belum dapat dilakukan secara keseluruhan.  Diharapkan stratifikasi tersebut akan lebih disempurnakan dengan data dan informasi yang lebih lengkap, misalnya data satelit, potret udara, dan peta-peta yang lebih detail.

Kelas-kelas kesesuaian lahan dan pola penggunaan lahan dapat diinterpretasikan dari peta tersebut.  Setiap poligon dalam peta digolongkan kedalam tiga penggunaan utama, yaitu (1) budidaya lahan kering (dry land arable), (2) budidaya lahan basah (wetland arable), dan (3) budidaya lahan dataran tinggi (highland arable). 

Tahap berikutnya adalah melakukan zonasi daerah studi dengan tujuan utama untuk mengklasifikasi daerah padi dan non-padi sehingga dapat mengurangi areal akan diambil sampelnya.  Tahap akhir adalah re-stratifikasi daerah studi dari klas kesesuian lahan.  Dasar dari stratifikasi ini adalah presentasi areal sawah, kondisi geomorfologi, dan homogenitas fase pertumbuhan padi dari setiap poligon yang ada.  Pengecekan lapangan juga dilakukan dalam proses stratifikasi ini dengan tujuan untuk memverifikasi hasil.

Dalam kegiatan pembangunan kerangka sample area di Jawa Barat ini, Stratifikasi yang dilakukan untuk Provinsi Jawa Barat menggunakan peta digital peta administrasi, Peta Rupa Bumi skala 1: 25.000, dan Peta Baku Persawahan Skala 1:10.000.  Dalam peta tersebut juga terdapat batas administrasi, sehingga untuk mendapatkan strata yang meliputi Kecamatan atau seluruh Kabupaten, masing-masing peta kelompok penggunaan lahan ditumpangsusunkan dengan peta batas administrasi Kecamatan atau Kabupaten. Proses stratifikasi tersebut dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak GIS.

Dalam peta tersebut terdapat berbagai poligon penggunaan lahan, namun dalam keperluan stratifikasi, poligon-poligon tersebut akan dikelompokkan menjadi empat  penggunaan lahan, yaitu (1) poligon bukan persawahan, (2) poligon persawahan irigasi, (3) poigon sawah tadah hujan dan, (3) poligon lahan kering untuk tanaman pangan (tegalan).  Berdasar 4 kelompok besar penggunaan lahan tersebut, akan diperoleh strata lahan dengan difinisi sebagai berikut:

Strata-0 : adalah poligon-poligon bukan persawahan (perkebunan, hutan, tambak, pemukiman, tubuh air, dan sebagainya.  Strata 0 tidak akan dialokasikan sampel segmen, karena selain untuk mengurangi jumlah sampel, strata ini dianggap tidak ada unsur penggunaan lahan untuk persawahan

Strata-1: adalah poligon-poligon persawahan irigasi, baik persawahan yang dibudidayakan sekali maupun dua kali atau lebih musim tanam dalam satu tahun.  Sampel segmen akan dialokasikan dalam strata-1.

Strata-2 : adalah persawahan yang tidak diairi dengan jaringan irigasi atau sawah tadah hujan, dimana sawah ini hanya ditanami pada musim hujan. Sampel segmen akan dialokasikan dalam strata-2

Strata-3 : adalah poligon-poligon kemungkinan sawah, dimana dalam praktek adalah poligon tegalan.  Asumsi yang dipakai adalah: (1) petani ada kemungkinan menanam padi di tegalan dengan sistem gogo, (2) tegalan pada umumnya berdekatan dengan persawahan sehingga ada kemungkinan ada konversi penggunaan, dan (3) persawahan sempit yang bercampur dengan tegalan ada kemungkinan tidak terpetakan dalam peta baku persawahan dengan skala kecil (1:100000), dan digeneralisasikan menjadi poligon tegalan.  Sampel segmen dialokasikan dalam strata-3.

Proses stratifikasi dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak ArcGIS dan sumber utama yang akan digunakan sebagai alat stratifikasi adalah Peta Baku sawah skala 1:10.000 dan peta rupa bumi skala 1:25.000 dalam format digital. Generalisasi poligon penggunaan lahan dilakukan berdasarkan empat kelompok besar, yaitu bukan persawahan, persawahan irigasi, perwasahan non irigasi dan tegalan.  Masing-masing kelompok penggunaan lahan tersebut sebagai representasi strata-1, strata-2, dan    strata-3.  Hasil stratifikasi untuk wilayah Jawa Barat  dapat dilihat pada  gambar 3-2 di bawah ini.

Peta stratifikasi jabar.jpg

Gambar 3-2. Peta Stratifikasi sawah Provinsi Jawa Barat

 

Dalam peta baku persawahan juga terdapat batas administrasi, sehingga untuk mendapatkan strata yang meliputi seluruh Kabupaten, masing-masing peta kelompok penggunaan lahan (strata) ditumpangsusunkan dengan peta batas administrasi Kabupaten. Gambar 3-2 di atas merupakan hasil stratifikasi untuk provinsi Jawa Barat, dimana S-1 (strata-1) adalah wilayah persawahan irigasi, Strata-2 (S-2) adalah strata sawah non-irigasi dan S-3 (strata-3) adalah kemungkinan sawah, dimana poligon-poligon tegalan dan semak-semak masuk dalam strata ini, dan S-0 adalah non-sawah.  Strata-1, strata-2 dan Strata-3 dialokasikan sampel dalam proses randomisasi, namun Strata-0 tidak dialokasikan sampel.  Wilayah strata-1, strata-2 dan strata-3 kemudian disebut sebagai wilayah kerangka sampel area. 

 

 

 

 

·         Pembuatan Model random sampling dan Ekstraksi Sampel Segmen

Desain sampel segmen yang digunakan dalam kegiatan ini didasarkan pada kerangka areal dengan segmen berbentuk bujur sangkar. Segmen ditentukan dengan menumpang-susunkan grid bujur sangkar diatas areal yang akan diteliti (gridding). Dimana area operasional yang akan diteliti, disebut studi area, dibagi kedalam blok-blok besar berbentuk bujursangkar berukuran 6 km X 6 km persegi. Masing-masing bujursangkar besar ini kemudian dibagi lagi menjadi 400 bujursangkar yang lebih kecil (sub-blok) berukuran 300 m X 300 m.

Masing-masing bujursangkar ini disebut segmen. Batas segmen ditentukan berdasarkan pada koordinat geografi dengan lokasi tetap. Pembagian studi area menjadi blok dan sub-blok ditunjukkan dalam Gambar 3-3.

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 3-3. Ilustrasi pembagian wilayah menjadi blok dan sub-blok

 

Metoda ‘Aligned Systematic Radom Sampling’ dengan menggunakan ambang jarak (threshold) akan diaplikasikan untuk mengekstraksi sampel segmen. Daerah studi area yang sudah dibagi kedalam blok-blok berukuran 6 km x 6 km kemudian dibagi lagi menjadi 400 sub-blok berukuran 300 m x 300 m yang menjadi ‘spatial unit’ dalam penentuan sampel segmen.

Dimensi (jumlah) sampel ditentukan dengan mengikuti sampel dimensi minimum yang masih dimungkinkan dalam hubungannya dengan keakuratan data yang dapat diterima dalam estimasi pada level Kecamatan.  Pertimbangan dalam penentuan dimensi sampel terutama merujuk pada kesulitan pelaksanaan survai serta berhubungan dengan kendala-kendala managemen kegiatan (koordinasi, jumlah Mantri Tani/PPL), biaya dan kesulitan dalam transfer ‘know-how’ teknik survai. Dalam desain operasional ini, dimensi sampel segmen adalah 5% dari luasan kerangka.  Dimensi sampel ini juga mengalami penyesuaian dengan pertimbangan koefisien variasi yang akan dicapai, dimensi sampel per strata dan per Kabupaten, dan pengetahuan yang dikuasai tentang kondisi setempat.

Untuk mendapatkan 5% sampel dari luas populasi, paling sedikit 20 segmen/blok harus dipilih dengan memperhatikan jarak ambang untuk menghidari penumpukan sampel dalam daerah tertentu saja.  Apabila dalam pengacakan terdapat 2 segmen atau lebih yang bergandengan (berdekatan) satu dengan yang lain, maka hanya satu saja yang diputuskan menjadi sampel segmen.  Ambang jarak yang dikenakan dalam penelitian ini adalah minimal 1 km jarak antara satu sampel segmen dengan segmen yang lainya. Adapun model random sampling 5% dapat dilihat pada gambar 3-4 dibawah. Setelah terbentuk  sebaran model random sampling, kemudian ditentkan nomor urut dari random sampling tersebut dengan cara diacak, yang bertujuan untuk menghindari adanya segmen yang berdekatan mempunyai nomor urut yang berurutan, sehingga ambang jarak dapat dicapai.

Gambar 3-4. Model Random sampling 5%

Setelah diperoleh model random sampling pada grid 6 km x 6 km maka dilakukan ulangan (reflikasi) 20 sampel segmen tersebut untuk setiap blok 6 km x 6 km lainnya.

 

Gambar 3-5. Model random sampling dan grid 6km x 6km

 stratified systematic random sampling.jpg

Gambar 3-6. Stratified systematic random sampling di Jawa Barat

Sebaran replikasi random samping atau stratified random sampling tersebut kemudian ditumpangsusunkan dengan peta kerangka sampel sawah, hal ini dilakukan untuk melihat segmen mana saja yang bertumpangsusun dengan Strata-0, yang kemudian akan dieliminir.

overlay extraksi dan kerangka sample.jpg

Gambar 3-7. Tumpangsusun antara Stratified systematic random sampling dengan kerangka sawah

 

·         Seleksi Sampel segmen dan Identifikasi Segmen

Dari 20 sampel segmen dalam setiap blok tersebut dipilih 4 sampel segmen (atau sesuai prosentase terhadap luas strata sawah) yang memenuhi syarat  sebagai berikut: (1) yang posisinya memenuhi ambang jarak (distance threshold) 1 km (3 grid) atau lebih, dan (2) jatuh pada strata-1, strata-2 atau strata-3, sedangkan yang jatuh pada strata-0 dianulir.  Apabila sampel segmen dalam suatu strata di Kecamatan tertentu jumlahnya sedikit, sebagai akibat dari luas strata yang sempit, maka kerangka areal dalam Kecamatan tersebut tidak dilakukan pembedaan antara strata-1, strata-2 dan strata-3.

Karena setiap kecamatan harus ada segmen yang mewakili, maka dilakukan perhitungan keterwakilan segmen pada setiap kecamatan dengan cara menghitung luas polygon pada masing-masing strata sedangkan banyaknya segmen adalah luas strata pada kecamatan tersebut dibagi 9 atau Banyaknya segmen = roundup(luas polygon sawah)/9). Dimana luas sawah dalam km2 dan angka 9 adalah banyaknya subsegmen dalam sebuah segmen.

Tabel 3-1. Perhitungan luas polygon sawah dan banyaknya segmen yang mewakili masing-masing strata

SRS jabar.jpg

Gambar 3-8. Segmen terpilih hasil seleksi di Jawa Barat

Pada bab 4 dapat dilihat banyaknya segmen untuk masing-masing kabupaten di Jawa Barat. Banyaknya segmen terpilih hasil seleksi yang dilakukan dapat dilihat pada tabel 3-2 dibawah. Jumlah keseluruhan sampel segmen di Jawa Barat adalah 2476 segmen, dapat dilihat pada tabel tersebut komposisi banyaknya segmen untuk masing-masing kabupaten sangat bervariasi tergantung luas sawahnya. Kabupaten Indramayu, Subang dan karawang merupakan kabupaten dengan jumlah segmen Strata-1 dan strata-2 terbanyak yang menunjukkan luas sawah yang sangat luas dan juga lumbung padi Jawa Barat.

Titik pengamatan dipilih di setiap sampel segmen secara sistematik dengan jarak dari satu titik ke titik berikutnya adalah 100 m.  Dalam satu segmen dibuat grid berukuran 100 m x 100 m,  titik-titik pusat grid tersebut merupakan titik-titik pengamatan.  Jadi total titik pengamatan dalam satu segmen adalah 9 buahTitik-titik pengamatan ini yang kemudian secara regular disurvai untuk dilakukan pengamatan terhadap fase-fase pertumbuhan padi. 

Gambar 3-9 mengilustrasikan  penyebaran titik-titik pengamatan pada sampel segmen terpilih yang berukuran 300 m x 300 m.  Sedangkan jarak antar titik pengamantan adalah 100 m.  Untuk mempermudah orientasi dalam pelaksanaan survei lapangan, ditumpangsusunkan antara titik-titik pengamatan dengan foto segmen yang telah direktifikasi.  Foto segmen merupakan foto udara atau citra satelit resolusi tinggi yang menggambarkan kenampakan-kenampakan fisik pada segmen tersebut.  Kemudian hasilnya dicetak dalam sekala 1:1500, seperti yang terlihat dalam Gambar 3-9. Kenampakan-kenampakan yang terlihat di foto segmen, seperti jalan, saluran irigasi, pemukiman, jembatan dan lain-lain, dicocokkan dengan kenampakan yang ada dilapangan sehingga akan mempermudah pelaksanaan survei lapangan.

 

point_sample

Gambar 3-9. Foto segmen  dan 9 titk pengamatan

 

Untuk memudahkan managemen data, identifikasi setiap segmen terpilih dilakukan dengan memberi penomoran.  Penomoran segmen disesuaikan dengan kode Propinsi, kode Kabupaten, kode kecamatan dan nomor urut segmen hasil seleksi per kecamatan. Kode propinsi, kode Kabupaten dan kode kecamatan  mengacu pada kode yang selama ini dipakai oleh Badan Pusat Statistik (BPS).  Misalkan kalau dilakukan pengacakan pemilihan sampel untuk daerah Propinsi Jawa Barat, dan jatuh pada Kabupaten Bogor, dan kecamatan Ciawi maka penomoran sampel segmen dilakukan sebagai berikut:          

Kode Propinsi :      Pulau Jawa terdiri dari 4 propinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Timur (DKI Jakarta tidak dimasukkan). Kode dari BPS untuk Jawa Barat adalah 32.  Maka nomor sampel segmen tersebut untuk 2 digit pertama adalah 32 karena terletak di Propinsi Jawa Barat

Kode Kabupaten:  Kabupaten Bogor termasuk daerah Propinsi Jawa Barat yang mempunyai kode 01, maka dua digit nomor sampel segmen yang ke-tiga dan ke-empat  adalah  01

Kode Kecamatan: Kecamatan Ciawi yang terdapat di Kabupaten Bogor mempunyai kode 100, maka tiga digit nomor sampel segmen yang ke-lima, ke-enam, dan ke-tujuh adalah 100

Nomor Urut  :         Nomor acak ini didapat dari no urut untuk masing-masing kecamatan. Untuk kecamatan Ciawi Kabupaten bogor segmen ini mempunyai nomor urut 2. dua digit terakhit sampel segmen tersebut adalah 02.

Jadi secara utuh nomor segmen yang terpilih tersebut adalah 320110002.           

Setiap segmen terpilih tersebut dibuat dalam tiga peta penunjang untuk membantu para petugas lapangan mengenali segmen tersebut. Adapun peta yang dimaksud adalah:

Peta Lingkungan Sekitar Segmen

Peta Rupa Bumi yang berisi plot segmen digunakan sebagai panduan menuju ke lokasi segmen berada. Pada Peta lingkungan sekitar dapat diidentifikasi lokasi pemukiman, sebaran sawah, sungai, jaringan jalan; sehingga dengan keberadaan informasi tersebut dapat menjadi acuan surveyor menuju lokasi segmen. Lihat gambar 3-10

 

Foto Lingkungan Sekitar Segmen

Foto area sekitar segmen yang digunakan sebagai panduan untuk menemukan area segmen yang sesungguhnya. Berbeda dengan Peta lingkungan sekitar Foto lingkungan sekitar diperoleh dari Citra Satelit atau Foto udara paling akhir dari area sekitar segmen, sehingga sangat memudahkan surveyor dalam mengidentifikasi batas-batas segmen dan objek-objek disekitar segmen tersebut, seperti perumahan, hutan, sungai dan lain-lain. Lihat Gambar 3-10

 

Foto Segmen beserta Titik Pengamatannya

Foto dari area segmen yang akan dikunjungi untuk disurvai. Surveyor akan membawa foto segmen ini untuk memudahkan menemukan lokasi titik-titik pengamatan dalam pengumpulan data fase pertumbuhan padi di lapangan. 

Segmen berukuran 300 m x 300 m dibagi menjadi 9 sub-segmen berukuran 100 m x 100 m. Lihat Gambar 3-10

Titik pengamatan adalah titik-titik yang terletak di dalam sampel segmen dan merupakan titik tengah dari sub-segmen.  Jadi dalam satu segmen terdapat 9 titik pengamatan.  Setiap titik pengamatan akan dikunjungi dalam waktu tertentu untuk dicatat fase pertumbuhan padi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

Gambar 3-10. Peta lingkungan sekitar, Foto Lingkungan sekitar dan Foto Segmen

 


3.  Formulir Pengamatan dan Pengiriman Data

Untuk memudahkan dalam kodifikasi pengiriman data maka perlu dilakukan kodifikasi pengamatan data, untuk itu telah disiapkan formulir pengamatan data yang sederhana seperti tampak pada gambar dibawah ini. Adapun fase tumbuh dan kondisi segmen yang diamati adalah sebagai berikut:

Kode

Fase Pertumbuhan padi

1

Vegetatif Awal

2

Vegetatif Akhir

3

Geneatif

4

Panen

5

Pesiapan lahan

6

Puso

7

Sawah yang ditanami BUKAN PADI

8

BUKAN SAWAH : hutan, pemukiman jalan, tubuh air

 

Adapun kenampakan visual dari masing-masing fase pertumbuhan padi adalah sebagai berikut:

Kode

Kenampakan visual

Fase Pertumbuhan Padi

1

RW-GY

Vegetatif Awal:

Fase tumbuh mulai dari awal tanam sampai anakan maksimum

(1-35 hari)

2

foto green late

Vegetatif Akhir:

Fase tumbuh mulai dari anakan maksimum sampai sebelum keluar malai (35-55)

3

RW-P

Generatif:

Fase tumbuh mulai dari keluar malai, pematangan, sampai sebelum panen

(55-105 hari)

4

HARVEST

Panen :

Fase pada saat padi sedang atau sudah dipanen

5

http://sharingdisini.com/wp-content/uploads/2012/04/kebotraktor.png http://sharingdisini.com/wp-content/uploads/2012/04/kebotraktor.png

Persiapan Lahan:

Fase dimana lahan sawah mulai diolah untuk persiapan tanam padi. 

6

http://korantransaksi.com/wp-content/uploads/2012/11/Sawah-Puso.jpg 1237276620X310

Puso:

Apabila terjadi serangan OPT atau bencana, sehingga produksi padi kurang 11 % dari normal

7

beralih-tanam-sayuran-01

Lahan yang ditanami BUKAN PADI:

Adalah areal persawahan yang tidak dibudidayakan untuk tanaman padi

8

http://wacananusantara.org/wp-content/uploads/2011/12/Banua-dan-Alak-Mandailing-3.png http://4.bp.blogspot.com/_e45GK4i1E8M/TS32dwMIBqI/AAAAAAAADIY/E9YCkD2XGHk/s1600/Lush_Winding_Road_Olympic_National_Park_Washington.jpg

Bukan Sawah:

 Apabila titik pengamatan jatuh pada areal bukan persawahan, misalnya hutan, perkebunan, semak, pemukiman, badan air, jalan dan lain-lain

 

Fase pertumbuhan padi atau kondisi tutupan lahan yang terjadi pada saat survai itulah yang diisikan oleh para petugas lapangan dengan mencatatanya pada formulir yang sudah disediakan.

Adapun formulir laporan survai lapangan yang berisi antara lain :

(1) Nama Kabupaten/kota,

(2) Nama Kecamatan,

(3) No Segmen,

(4) Tanggal Survai 

(5) Keterangan kode dan fase tumbuh padi,

(6) Tabel Fase Pertumbuhan Padi,

(7) Format SMS, dan

(8) Kolom tanda tangan dan nama terang. 

Contoh formulir laporan survai dapat dilihat sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

4.   Pengolahan Data

Dalam proses pembangunan sistem komunikasi data dengan sistem SMS Server, dibangun juga formulasi ekstrapolasi (direct expansion) dari sampel ke populasi dalam sistem tersebut.  Sehingga data setiap segmen hasil survai lapangan yang dikirim oleh surveyor langsung diterima oleh server dan langsung dihitung estimasi dan peramalan setiap parameter tanaman padi

Estimasi luasan dalam regional inventori didasarkan atas pendekatan ‘direct expansion’, yaitu ekstrapolasi dari data sampel segmen ke estimasi populasi luasan.  Data sampel segmen diperoleh dari survai lapangan dengan mengamati dan mencatat  penggunaan lahan atau fase pertumbuhan padi pada setiap titik dalam sampel segmen.  Formulasi matematis yang digunakan dalam estimasi luasan berdasarkan strata adalah sebagai berikut :

 


                         ,                   dengan varian 

 

                 ,        dengan varian

                         , dengan varian   

   dimana:

Dj =     Luas total strata j

nj =      demensi/jumlah sampel segmen yang terpilih dalam strata j

m =      jumlah strata

pij =      proporsi luasan padi dalam segmen I strata j

Aj =      Luas total tanaman padi dalam strata j

 

Rumus matematis diatas digunakan untuk menganalisis ekstrapolasi dari sampel ke populasi dengan menggunakan stratifikasi.  Tujuan stratifikasi adalah membagi atau memisahkan suatu wilayah tertentu ke dalam sub-wilayah yang tidak saling overlap (bertindihan), sehingga variasi lingkungan pertanian (tanaman) di suatu segmen dalam strata yang sama dapat dikurangi dibandingkan dengan variasi antar strata. 

Analisis luasan masing-masing penggunaan lahan atau fase pertumbuhan tanaman dilakukan pada setiap strata.  Sedangkan total luasan masing-masing fase pertumbuhan tanaman merupakan penjumlahan luasan dari seluruh strata yang ada.  Dalam kasus rumus diatas jumlah strata adalah m, sedangkan untuk pilot proyek di daerah Indramayu, stratifikasi dilakukan secara sederhana, yaitu:

o   S0 untuk daerah yang didalam peta dikatagorikan penggunaannya sebagai bukan sawah dan bukan tegalan. Untuk S0 ini tidak dialokasikan sampel

o   S1 untuk daerah yang didalam peta dikatagorikan penggunaannya sebagai sawah irigasi

o   S2 untuk daerah yang didalam peta dikatagorikan penggunaannya sebagai sawah tadah hujan

o   S3 untuk daerah yang didalam peta dikatagorikan penggunaannya sebagai tegalan

Dalam kasus ini kerangka sampel terdiri dari dua strata, yaitu Strata 1 (S1) dan Strata 2 (S2) yang dialokasikan sampel segmen.

·         Penghitungan Proporsi Masing-masing Fase Pertumbuhan pada Setiap Strata

Estimasi proporsi p akan digunakan untuk analisis setiap fase pertumbuhan yang terdiri dari persiapan lahan, vegetatif, generatif, dan panen di setiap strata.  Proporsi setiap fase pertumbuhan dalam satu segmen dihitung berdasarkan jumlah titik dengan fase pertumbuhan tertentu dibagi dengan total jumlah titik dalam satu segmen.  Misalnya dari hasil pengamatan lapangan didapat 3 titik yang mempunyai fase tumbuh vegetatif, sedangkan total titik dalam satu segmen adalah 9 titik.  Maka proporsi fase pertumbuhan vegetatif tanaman padi pada segmen tersebut adalah 3/9=0,33.  Sedangkan rata-rata proporsi setiap fase pertumbuhan merupakan penjumlahan proporsi dari seluruh sampel pada strata tertentu dibagi dengan jumlah sampel pada strata tersebut.

 

·           Penghitungan Luasan Setiap Fase Pertumbuhan pada Setiap Strata

Untuk memperoleh luasan padi pada masing-masing fase pertumbuhan digunakan hasil perhitungan proporsi fase pertumbuhan dikalikan dengan luasan strata.  Jadi dalam tahapan ini akan diperoleh luasan fase persiapan lahan, fase vegetatif, fase generatif, dan fase panen pada setiap strata.

·           Penghitungan Luasan Setiap Fase Pertumbuhan Padi Pada Tingkat  Kabupaten

Total luasan masing-masing fase pertumbuhan padi diperoleh dari penjumlahan luasan fase pertumbuhan padi dari seluruh strata yang ada dalam suatu Kabupaten.

Pada tahapan ini, data dan informasi yang dapat diperoleh pada setiap kali survai lapangan adalah:

-      Luasan sawah di seluruh kabupaten Indramayu, yaitu merupakan penjumlahan dari luasan persiapan lahan (PL) + luasan fase vegetatif  (V1 dan V2) + luasan fase generatif (G) + luasan fase panen (P)

-      Luas panen, merupakan luas panen pada saat survai ditambah dengan luas panen diantara survai yang lalu dan survai sekarang

-      Peramalan 2 bulan ke depan merupakan penjumlahan luasan V2 dan luasan G. 

-      Peramalan luas panen 3 bulan kemudian, yaitu luas fase vegetatif (V1, V2) ditambah denga luas fase generatif (G)

-      Sedangkan peramalan luasan 4 bulan ke depan merupakan penjumlahan luasan PL, V1, V2, dan G

-      Kalau di setiap survai juga dilakukan estimasi produktivitas, maka akan diperolah estimasi produksi maupun peramalan produksi

 

 

 

SISTEM INFORMASI PENGIRIMAN

DAN PENERIMAAN DATA

 

1.  Sistem Pengiriman dan Penerimaan Data

1.1. Kajian media pengiriman data

Dengan adanya kemajuan teknologi, utamanya teknologi komunikasi dan informasi, proses pengiriman data dan penyampaian informasi semakin mudah dilakukan dan alternatif media pengiriman data semakin banyak. Pengiriman data melalui voice (telpon) ataupun hardcopy (facsimili) sudah menjadi alternatif yang ditinggalkan banyak orang karena kelemahan-kelemahan sebagai berikut:

a.    Biaya pengiriman data yang relatif lebih mahal.

b.    Kemungkinan kesalahan dalam pemasukan data ke dalam manual mengingat tidak terbacanya data yang dikirimkan karena alasan tinta atau kertas habis (dalam kasus facsimili), saluran telepon sibuk atau masalah komunikasi lainnya.

c.    Memperpanjang proses pemasukan data; petugas di lapangan mencatat hasil pelaksanaan survei - petugas di lapangan menuliskannya ke dalam formulir yang sudah tersedia - petugas di lapangan mengirimkan formulir melalui facsimili - petugas penerima menerima hasil facsimili tersebut - petugas penerima memasukkan data ke dalam basis data. Dengan adanya proses pemasukan data yang panjang tersebut maka kemungkinan kesalahan juga akan semakin besar (error propagation).

Di sisi lain, alternatif pengiriman lain yang memiliki kans keberhasilan (dalam konteks data diterima dan juga tingkat kebenaran data yang diterima) yang relatif tinggi, sejalan dengan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi adalah:

a.    Menggunakan media internet.

Utilisasi media internet dalam hal pengiriman dan penerimaan data merupakan alternatif yang paling ideal saat ini dimana internet memangkas problematika jarak, ruang dan waktu, dalam arti pengguna selalu dapat mengakses dan mengirimkan data dari manapun dan pada waktu kapanpun selama pengguna dan server terkoneksi pada jaringan global (jaringan internet).

Walau pada saat sekarang ini, aksesibilitas koneksi internet sudah meliputi seluruh Indonesia pada tingkatan Kota Kabupaten dan untuk Pulau Jawa sudah mencakup Kota Kecamatan, persepsi masyarakat terhadap penggunaan media internet ini masih seperti:

a.    Mahalnya biaya operasional untuk mengakses internet. Point ini tidak seluruhnya benar, tergantung dari berapa lama pengguna tersebut menggunakan media internet dan juga berapa banyak data yang dikirimkan oleh pengguna melalui media internet. Persepsi ini tidak sepenuhnya benar mengingat bahwa data yang dikirimkan tidak besar, data yang dikirimkan tidak lebih dari 10KB atau 300KB jika juga mengirimkan gambar hasil foto dan lama penggunaan media internet hanya dibutuhkan pada saat pengiriman data, tidak harus selalu terkoneksi dengan jaringan internet.

b.    Mahalnya perangkat media komunikasi data. Bahwa untuk terhubung ke dalam jaringan internet dibutuhkan sebuah perangkat (device) yang mempunyai fasilitas koneksi jaringan internet. Dewasa ini, sebagian besar perangkat telepon selular (handphone) sudah dilengkapi dengan fasilitas ini dengan harga yang relatif terjangkau. Kendala yang signifikan terhadap penggunaan perangkat media telekomunikasi seperti yang dijelaskan di atas lebih pada daya adaptasi pengguna tersbut dalam mengoperasikan perangkat tersebut dan juga biaya yang dibutuhkan dalam hal pengadaan perangkat tersebut secara masif, mengingat banyaknya tenaga surveyor yang terlibat dalam kegiatan ini.

c.    Sulitnya pengoperasian pengiriman data melalui media internet.

Mengacu pada informasi dari Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dalam dokumen "Komunikasi dan Informatika Indonesia - Buku Putih 2012" (http://ppidkemkominfo.files.wordpress.com/2013/12/ict-white-paper-bahasa-indonesia.pdf), terlihat bahwa Penyediaan akses internet di ibukota kecamatan yang menjadi bagian dari wilayah USO melalui PLIK (Pusat Layanan Internet Kecamatan). PLIK dibangun dengan menyediakan ruang akses internet bersama, push konten yang produktif dan juga portal konten-konten yang bermanfaat. Hampir 100% target PLIK telah tercapai di seluruh Pulau di Indonesia. Akan tetapi untuk pulau Jawa, belum 100% target PLIK tercapai, terutama di Yogyakarta dan Jawa Tengah yang baru mencapai 94% dari target.

b.    Menggunakan media SMS (Short Messaging Service).

Salah satu alternatif pengiriman data yang masih representatif sampai dengan saat ini adalah dengan menggunakan media SMS (Short Messaging Services). Di satu sisi, penggunaan media SMS sudah sangat umum digunakan oleh masyarakat utamanya pengguna telepon seluler (handphone) dalam hal bertukar informasi. Di sisi lain, kebutuhan perangkat tambahan yang diletakkan pada server basis data sangat mudah dan murah, hanya membutuhkan perangkat GSM modem yang dipasang pada server tersebut dan aplikasi untuk menerima dan memproses SMS yang masuk dalam nomor tertentu yang sudah didefinisikan dan diketahui bersama.

Selain keuntungan seperti yang tersebut di atas, beberapa kelemahan dalam mengaplikasikan solusi ini (beserta strategi pemecahan masalahnya) adalah sebagai berikut:

a.    Keterbatasan informasi yang dikirimkan.

Secara generik, jumlah karakter yang dikirimkan dan diterima oleh provider adalah sebanyak 160 karakter. Walau sebagian besar perangkat telepon selular sudah dapat mengakomodir pesan-pesan dengan panjang pesan lebih dari 160 karakter, tetapi pada dasarnya oleh perangkat tersebut pesan tersebut dipotong-potong sesuai dengan maksimum karakter dan gilirannya pada device penerima, potongan-potongan pesan tersebut direkonstruksi ulang untuk mengeluarkan pesan yang utuh.

Untuk menjaga kompatibilitas perangkat komunikasi selular pada pengguna dan perangkat GSM modem pada server basis data, maka diputuskan 160 karakter sebagai konstrain utama dalam hal pengiriman data yang valid. Konsekuensinya adalah bahwa pengembang harus mendefinisikan pesan sedemikian rupa sehingga pesan yang dikirimkan masih mempunyai arti dan mencerminkan hasil pelaksanaan survei dengan baik dan benar dengan maksimal 160 karakter yang tersedia.

Hal lain yang patut diperhatikan adalah bahwa pengiriman data hanya sebatas pada data yang bersifat tekstual. Data dengan format di luar itu, seperti data image, tidak dapat diakomodir oleh pengiriman data dengan media SMS.

b.    Format pengiriman informasi yang cukup rigid.

Melihat bahwa utilisasi media SMS dalam hal pengiriman informasi sangat intensif, maka harus didefinisikan mekanisme pemilahan informasi tersebut mana yang merupakan informasi yang valid dan mana yang tidak. Dengan demikian beban dari SMS server sedikit berkurang dimana SMS server tersebut langsung melakukan aktifitas:

·         mengabaikan SMS yang masuk yang tidak sesuai sama sekali dengan format yang didefinisikan,

·         SMS server memberikan feedback terhadap SMS yang masuk yang sesuai dengan format tetapi masih mengandung kesalahan sehingga pengirim data dapat melakukan perbaikan terhadap data yang sudah dikirimkan tersebut

·         SMS server memberikan konfirmasi terhadap SMS yang masuk yang sudah sesuai dengan format dan sudah benar qua format data. Dengan demikian pengirim data mendapatkan informasi bahwa data yang dikirimkan sudah berhasil diproses.

Mekanisme penyaringan tersebut, di dampingi petunjuk format pengiriman data harus didefinisikan agar mekanisme di atas dapat dilakukan dengan optimal.

c.    Biaya pengiriman dan penerimaan data.

Pada sisi pelapor atau petugas lapangan, dibutuhkan biaya operasional pengiriman SMS tersebut. Biaya pengiriman SMS berkisar antara Rp. 100,- sampai dengan Rp. 125,- per SMS yang dikirimkan. Jika pengiriman data berhasil dilakukan pada saat pertama kali dikirimkan, maka biaya operasional tersebut tidak begitu signifikan besarnya, tetapi jika pelapor tersebut bertanggung jawab terhadap beberapa area yang harus dilaporkannya, maka biaya tersebut dapat membengkak secara signifikan. Hal itu juga diperparah jika pada saat pengiriman data, pengirim data tidak memperhatikan kaidah-kaidah format pengiriman data sehingga pengiriman data harus dilakukan secara berulang-ulang.

Di sisi lain, SMS server yang diletakkan di Pusat juga membutuhkan biaya operasional pengiriman SMS dimana setiap SMS yang masuk dan memenuhi standard minimal format pengiriman akan dikirimkan SMS kembali. SMS yang dikirimkan bisa berupa SMS feedback ataupun SMS konfirmasi. Untuk lebih jelasnya, lihat penjelasan point (b) sebelumnya.

Dengan semakin banyaknya pelapor, dan juga semakin banyaknya SMS yang tidak memenuhi kaidah pengiriman data yang baik, maka beban biaya operasional SMS server akan semakin bertambah. Dengan asumsi ada 1.000 pengiriman data per bulan, dimana 50% di antaranya memerlukan 2 kali pengiriman data, maka proyeksi kebutuhan biaya operasional adalah sebesar (500 + (2 * 500)) * Rp. 125,- = Rp. 187.500,-

 

Di bawah ini disarikan keuntungan dan kelemahan dari masing-masing mekanisme pengiriman laporan.

No

Media

Keuntungan

Kerugian

1

Internet

Cepat

-    Butuh koneksi dan perangkat untuk terhubung ke internet, memberatkan untuk petugas lapangan

-    Persepsi bahwa koneksi melalui internet masih mahal sehingga orang cenderung akan menolak

2

Voice

Tahu pasti bahwa data sudah dikirimkan karena berbicara secara langsung

-    Petugas di kantor harus mencatat ulang hasil yang diberitakan

-    Tetap dibutuhkan media lain untuk memasukkan data ke dalam database

-    Kemungkinan terjadi kesalahan pemasukan data diakibatkan karena kesalahan dengar ataupun kesalahan penulisan (error propagation)

3

Facsimili

Sekaligus menjadi arsip secara hardcopy

-    Hasil survei tidak terbaca

-    Tetap dibutuhkan media lain untuk memasukkan data ke dalam database

-    Kemungkinan terjadi kesalahan pemasukan data diakibatkan karena kesalahan dengar ataupun kesalahan penulisan (error propagation)

4

SMS

-    Cepat

-    Murah

-    Mudah dan sudah umum dalam penggunaan

-    Bisa masuk ke dalam database

-    Butuh SMS server yang ”menangkap” dan mengolah data yang masuk

-    Format penulisan SMS yang baku

 

Dari kajian di atas, maka disimpulkan bahwa pengiriman informasi laporan dilakukan dengan bantuan media SMS, tetapi pengiriman data dengan bantuan media internet juga tetap diakomodir walaupun hanya untuk kalangan terbatas saja. Fokus utama sosialisasi pengiriman data adalah bagaimana mengirimkan data hasil survei dengan bantuan media SMS.

 

 

 

1.2.  Proses pengiriman dan penerimaan SMS (generik)

Secara umum, proses pengiriman SMS pada setiap provider telpon selular dapat digambarkan dengan gambar di bawah ini:

http://hadhilchoirihendra.files.wordpress.com/2012/11/sms-flow.jpg?w=593&h=376

Gambar 5-1 Proses pengiriman SMS

Keterangan gambar:

1.    Pengirim mengetikkan pesan SMS dan ketika pengirim menekan tombol Kirim (Send) maka handphone pengirim tersebut akan menyampaikan request ke MSC (Mobile Switching Center) dan VLR (Visitor Location Register) bahwa dia akan mengirim pesan.

2.    MSC bekerja sama dengan VLR memeriksa apakah si pengirim ini diperbolehkan untuk mengirimkan SMS. Pemeriksaan yang dilakukan lebih kepada apakah kartu yang digunakan oleh ketersediaan jaringan, pengirim data masih valid atau bermasalah dan juga pemeriksaan tentang ketersediaan dana pengiriman. Jika pemeriksaan tersebut sukses, pengirim akan memberikan pesan dan nomor penerima yang selanjutnya diteruskan ke SMSC (SMS Center).

3.    Pada point ini, pesan yang diterima oleh pengirim adalah status pengiriman SMS

4.    SMSC bertugas menyampaikan SMS yang akan dikirim. SMS Center tersebut akan menghubungi HLR (Home Location Register) untuk mengetahui lokasi penerima berada. Pada gilirannya HLR akan mencari tahu lokasi penerima melalui VLR yang mencatat nomor penerima. Hasil akhir dari pencarian tersebut adalah VLR menemukan lokasi calon penerima pesan dan atau mengeluarkan pesan kesalahan (error message) jika VLR gagal dalam melokalisasi nomor penerima tersebut. Kegagalan dalam melokalisasi nomor penerima bisa disebabkan karena nomor tidak terdaftar (nomor tidak valid, kartu SIM Card sudah hangus, telpon seluler dimatikan atau telpon seluler sedang berada dalam daerah yang tidak ada jaringan (blank spot)). Pesan kegagalan tersebut biasanya berupa pesan "Message not sent" atau "Pesan tidak terkirim". Sebaliknya jika VLR berhasil dalam melokalisasi calon penerima, VLR akan mengirimkan informasi tersebut ke SMS Center.

5.    Pada point ini, SMS Center sudah tahu kemana harus mengirim SMS, akhirnya mengirim pesan ke VLR bersangkutan. Jika HP penerima sedang tidak aktif, SMSC tetap menyimpan isi pesan selama waktu tertentu sebelum dihapus. Periode waktu simpan tergantung dari waktu yang didefinisikan oleh pengguna ke setting SMS Center. Pesan feedback yang diterima oleh pengirim biasanya berupa "Message Sent" atau "Pesan terkirim"

6.    VLR tujuan pun akhirnya menyampaikan pesan yang diantar oleh SMSC ke telpon seluler penerima. SMSC kemudian juga mengirimkan informasi pengiriman berhasil kepada pengirim.

 

1.3. Gambaran Umum Pengiriman dan Penerimaan Data Kegiatan Kerangka Sample Area Jawa Barat.

Secara sederhana, konsep pengiriman dan penerimaan data pelaporan survei dari Kegiatan Kerangka Sample Area Jawa Barat dapat digambarkan dengan gambar di bawah ini:

Gambar 5-2. konsep pengiriman dan penerimaan data pelaporan survei

 

Penjelasan:

1.    Pelapor mengirimkan hasil pekerjaan (survei) dengan format yang disepakati ke sebuah nomor yang telah disepakati melalui media SMS

2.    SMS tersebut diterima oleh sebuah GSM Modem yang kemudian menyimpan dan memproses pesan tersebut

3.    Jika pesan tersebut sesuai dengan format yang telah disepakati dan isi dari SMS tersebut memenuhi kaidah-kaidah pengiriman data, isi dari data tersebut selanjutnya disimpan ke dalam sebuah basis data

4.    GSM modem pada gilirannya akan mengirimkan SMS notifikasi bahwa pengiriman data sudah sesuai dengan kaidah atau mengirimkan SMS feedback yang memberitahu ke pengguna letak kemungkinan kesalahannya

5.    SMS notifikasi atau SMS feedback tersebut diterima oleh pengguna dan pengguna dapat menindak lanjutinya sesuai dengan prosedur

6.    (dan 7). Pada gilirannya, dengan bantuan aplikasi berbasis web, pengguna dapat mengakses hasil perhitungan sesuai dengan data yang telah ada dalam basis data tersebut. Untuk itu pengguna harus terkoneksi dengan jaringan internet dan mengakses situs Kerangka Sample Area Jawa Barat dengan alamat http://neonet.bppt.go.id/padi

Dari penjelasan di atas terlihat ada 3 modul atau aplikasi yang terkait dengan seluruh proses yang dijelaskan yaitu:

a.    Aplikasi untuk membaca, menyimpan dan mengirimkan SMS yang masuk/keluar dari/ke pengguna

b.    Aplikasi untuk melakukan proses intepretasi data yang masuk dan kemudian memasukkan data terseut ke dalam basis data

c.    Aplikasi untuk menampilkan hasil analisis terhadap data yang masuk.

 

1.4.  Format Pengiriman Data

Mekanisme pengiriman data melalui media SMS sudah diimplementasikan dan dilaksanakan sejak tahun 2010 dan sudah terbukti handal dan relatif murah. Sampai dengan tahun ini, strategi pengiriman data dengan media SMS masih tetap dipertahankan. Walau demikian dilakukan beberapa penyempurnaan terkait dengan format pelaporan, untuk semakin mempermudah pengguna, dalam hal ini petugas survei lapangan, dalam mengirimkan pelaporan dan juga memperkecil kemungkinan kesalahan-kesalahan dalam pengiriman nilai laporan.

Perbedaan yang paling mencolok dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya mencakup dua hal yaitu:

a.    Banyaknya subsegmen dari sebuah segmen. Sebelumnya satu segmen terdiri dari 25 (duapuluh lima) subsegmen, pada tahun ini diperkecil menjadi 9 (sembilan) subsegmen.

b.    Perubahan jenis fase pertumbuhan yang dilaporkan. Dalam kegiatan ini, jenis fase pertumbuhan adalah sebagai berikut (lihat tabel di bawah ini).

No.

Kode Fase Tumbuh Lama

Kode fase Tumbuh Baru

1

Vegetatif Awal

1

2

Vegetatif Akhir

2

3

Generatif

3

4

Panen

4

5

Pengelolaan Lahan

5

6

Puso

6

7

Lahan yang ditanami bukan padi

7

8

Bukan Sawah: Hutan,  Pemukiman , jalan,  tubuh air

8

 

Penjelasan lebih rinci mengenai alasan dan keuntungan dari perubahan seperti yang tersebut di atas dapat dilihat pada bagian sebelumnya. Bagian ini hanya akan menjelaskan mekanisme pengiriman dan penerimaan data.

Dari formulir pemasukan data yang telah didefinisikan seperti gambar di bawah ini:

maka didefinisikan format SMS seperti berikut:

AFS|spasi|SSSSSSSSS|spasi|B11B12B13|spasi|B21B22B23|spasi|B31B32B33

dimana:

AFS

Merupakan identifier pelaporan fase pertumbuhan padi

SSSSSSSSS

Adalah kode segmen. Lihat lampiran untuk daftar segmen secara lengkap

Spasi

1 atau lebih spasi untuk membedakan sekuens

B11

Nilai dari baris 1 kolom 1. Berupa nilai antara 1 sampai dengan 8 sesuai dengan kode fase pertumbuhan (lihat tabel di atas)

B12

Nilai dari baris 1 kolom 2. Berupa nilai antara 1 sampai dengan 8 sesuai dengan kode fase pertumbuhan (lihat tabel di atas)

B13

Nilai dari baris 1 kolom 3. Berupa nilai antara 1 sampai dengan 8 sesuai dengan kode fase pertumbuhan (lihat tabel di atas)

B21

Nilai dari baris 2 kolom 1. Berupa nilai antara 1 sampai dengan 8 sesuai dengan kode fase pertumbuhan (lihat tabel di atas)

B22

Nilai dari baris 2 kolom 2. Berupa nilai antara 1 sampai dengan 8 sesuai dengan kode fase pertumbuhan (lihat tabel di atas)

B23

Nilai dari baris 2 kolom 3. Berupa nilai antara 1 sampai dengan 8 sesuai dengan kode fase pertumbuhan (lihat tabel di atas)

B31

Nilai dari baris 3 kolom 1. Berupa nilai antara 1 sampai dengan 8 sesuai dengan kode fase pertumbuhan (lihat tabel di atas)

B32

Nilai dari baris 3 kolom 2. Berupa nilai antara 1 sampai dengan 8 sesuai dengan kode fase pertumbuhan (lihat tabel di atas)

B33

Nilai dari baris 3 kolom 3. Berupa nilai antara 1 sampai dengan 8 sesuai dengan kode fase pertumbuhan (lihat tabel di atas)

 

Di bawah ini diberikan contoh format pengiriman data yang baik beserta artinya:

1.    AFS 321462106 122 127  558

Artinya: telah dilaporkan hasil pengamatan untuk segmen 321462106 dengan kondisi sebagai berikut:

Subsegmen 1-1 adalah sawah dengan masa vegetatif awal

Subsegmen 1-2 adalah sawah dengan masa vegetatif akhir

Subsegmen 1-3 adalah sawah dengan masa vegetatif akhir

Subsegmen 2-1 adalah sawah dengan masa vegetatif awal

Subsegmen 2-2 adalah sawah dengan masa vegetatif akhir

Subsegmen 2-3 adalah lahan yang ditanami bukan padi

Subsegmen 3-1 adalah sawah dengan masa pengelolaan lahan

Subsegmen 3-2 adalah sawah dengan masa pengelolaan lahan

Subsegmen 3-3 adalah bukan sawah

2.    AFS 321782201 132 233 121

Artinya: telah dilaporkan hasil pengamatan untuk segmen 321782201 dengan kondisi sebagai berikut:

Subsegmen 1-1 adalah sawah dengan masa vegetatif awal

Subsegmen 1-2 adalah sawah dengan masa generatif

Subsegmen 1-3 adalah sawah dengan masa vegetatif akhir

Subsegmen 2-1 adalah sawah dengan masa vegetatif akhir

Subsegmen 2-2 adalah sawah dengan masa generatif

Subsegmen 2-3 adalah sawah dengan masa generatif

Subsegmen 3-1 adalah sawah dengan masa vegetatif awal

Subsegmen 3-2 adalah sawah dengan masa vegetatif akhir

Subsegmen 3-3 adalah sawah dengan masa vegetatif awal

 

Pelaporan dengan format yang baik dan benar akan dikirimkan konfirmasi bahwa data yang dikirimkan sudah diterima dan diproses. Format SMS konfirmasi adalah sebagai berikut:

"Pesan telah diterima. Terima kasih. (XXXXXX)"

XXXXXX merupakan pesan asli dari pengirim SMS. Dengan demikian juga memberikan informasi kepada pengirim bahwa pengirim mengirimkan laporan dengan nilai-nilai tersebut di atas. Sebagai contoh, jika pengirim mengirimkan laporan seperti berikut:

AFS 321782201 132 233 121

Maka SMS konfirmasi yang akan diterima oleh pengirim pesan tersebut adalah:

Pesan telah diterima. Terima kasih. (AFS 321782201 132 233 121)

 

Format pengiriman SMS feedback tergantung dari kesalahan yang dilakukan oleh pelapor. Kesalahan mencakup:

a.    Kesalahan dalam menuliskan segmen

a.    Kekurangan atau kelebihan pada waktu mengetikkan kode segmen. Kode segmen selalu berjumlah 9 dijit. Kekurangan atau kelebihan angka akan menyebabkan kode segmen tidak dikenal

b.    Kesalahan dalam memasukkan kode segmen. Misalkan seharusnya menuliskan 321782201 tetapi yang ditulis adalah 3217822O1. Bukan angka 0 yang ditulis tapi huruf O. Hal ini juga akan mengakibatkan kode segmen yang tidak dikenali. Demikian juga dengan kasus 321782211, harusnya mengisikan angka 0, tetapi mengisikan angka 1. Ini juga akan menyebabkan segmen tidak dikenali

b.    Kesalahan dalam mengisikan nilai-nilai subsegmen

a.    Salah satu nilai kondisi dari subsegmen di luar range 1 - 8. Misalkan AFS 321782201 139 233 121. Berhubung angka 9 di luar range 1 - 8, maka aplikasi akan menolak nilai yang dikirimkan dan sebagai gantinya aplikasi akan mengirimkan SMS feedback

b.    Ketidak lengkapan dalam menuliskan sekuens kondisi. Seperti dijelaskan di atas, kondisi suatu segmen dijabarkan dalam 3 sekuens yang dibatasi oleh spasi dimana 1 sekuens terdiri dari 3 nilai. JIka pengguna misalkan menuliskan AFS 321782201 132 23 121, maka aplikasi akan menolak pengiriman data ini dan mengirimkan SMS feedback bahwa nilai pada sekuens kedua tidak lengkap.

Kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh petugas lapangan bisa merupakan kesalahan tunggal, juga bisa merupakan kesalahan ganda, misalkan selain pengirim data salah dalam memasukkan kode segmen, pengguna juga tidak lengkap dalam mengisikan nilai subsekuens. Dalam hal ini aplikasi akan mengirimkan SMS feedback berdasarkan kesalahan pertama yang ditemukan.

Untuk menjaga ketidak up-to-date-an pengiriman data, maka didefinisikan jendela waktu (time frame) yang valid untuk melaporkan kondisi survei. Jendela waktu tersebut berlangsung selama 2 minggu setiap bulan survei dan disepakati pada 2 minggu terakhir setiap bulan.  Jika pengguna mengirimkan hasil laporan survei di luar jendela waktu tersebut maka aplikasi akan menolak pengiriman data tersebut dan mengirimkan SMS feedback yangg menyatakan waktu pelaporan tidak valid. Untuk itu pengirim data disarankan untuk berkoordinasi dengan supervisor lapangan dan sebagai gantinya supervisor tersebut yang akan mengkoreksi dan memasukkan nilai sesuai dengan prosedur yang berlaku.

Patut dicatat disini, penggunaan spasi yang berlebih, sebagai contoh menggunakan 2 kali spasi dibandingkan dengan satu spasi saja antara komponen bukan dianggap sebagai kesalahan format.

Hal yang paling fatal adalah jika pengirim data lupa atau tidak mencantumkan identifier AFS pada awal pesan. Dengan tidak adanya identifier AFS maka aplikasi akan menganggap SMS tersebut sebagai SMS sampah dan tidak akan mengirimkan SMS, baik SMS notifikasi maupun SMS feedback kepada pengguna.

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, format pengiriman SMS tersebut menunjukkan kondisi dari segmen yang dipantau yang mana informasi tersebut akan diolah dan menjadi dasar prediksi luas panen untuk 2 atau 3 bulan ke depan.

Kedepannya system ini akan memfasilitasi untuk mendapatkan prediksi produksi hasil panen, maka dibutuhkan informasi tambahan, yaitu informasi hasil panen yang dapat dikaitkan dengan sample area. Informasi hasil panen, atau dalam istilah statistik pertanian adalah ubinan merupakan informasi yang dibutuhkan.

Untuk itu aplikasi ini juga dirancang untuk menerima dan mengolah data ubinan yang biasanya dilakukan per subround.

Format pengiriman laporan SMS dari kegiatan ubinan tersebut adalah sebagai berikut:

U PP KK CCC DDD SS BBBB LLLLLLL 1234.56

dimana:

U

Identifier pelaporan kegiatan ubinan

PP

Merupakan kode Provinsi

KK

Merupakan Kode Kabupaten

CCC

Merupakan kode Kecamatan

DDD

Merupakan kode Desa

SS

Merupakan kode Subdesa

BBBB

Merupakan kode Blok Sensus

LLLLLLL

Kode Sample

1234.56

Nilai berat komoditas dalam satuan Kilogram

 

Patut diperhatikan bahwa pelaksanaan ubinan dilakukan oleh pegawai BPS (Badan Pusat Statistik) sehingga dimungkinkan format tersebut mengalami perubahan dan adjustment sesuai dengan arahan dan saran dari BPS.

 

2.  Aplikasi Penerimaan dan Pengiriman Data

Seperti yang telah dijelaskan di atas, terdapat 3 subsistem yang terkait dengan proses kerja (work flow) penerimaan dan pengiriman SMS. Proses kerja dari subsistem pemeriksaan SMS yang masuk dapat digambarkan dalam flowchart sebagai berikut:

Gambar 5-3. Diagram Alir Pemeriksaan SMS

Di sisi lain, diimplementasikan subsistem pembacaan, intepretasi dan penyimpanan data dari SMS yang diterima. Proses kerja dari subsistem ini dapat digambarkan dalam flowchart seperti di bawah ini:

Gambar 5-4. Diagram Alir subsistem pembacaan, intepretasi dan penyimpanan data

 

Subsistem yang terakhir adalah subsistem pengiriman SMS yang dapat digambarkan dalam flowchart di bawah ini:

Gambar 5-5. Subsistem pengiriman SMS

 

Ketiga aplikasi diimplementasikan berbasis web (web based application) dengan menggunakan bahasa pemrograman PHP (Personal Home Page) dan sistem basisdata yang digunakan adalah MySQL. Alasan penggunaan bahasa pemrograman ini adalah:

1.    Proses instalasi dan pemeliharaan engine yang mudah. PHP dan MySQL sudah dikemas ke dalam satu paket, dalam hal ini digunakan paket XAMPP. Dengan menggunakan paket XAMPP maka pengguna tidak dipusingkan dengan penyetelan dan konfigurasi komputer untuk dijadikan sebuah webserver.

2.    Baik Apache (sebagai webserver), PHP dan MySQL tidak membutuhkan resource komputer yang besar sehingga komputer dengan spesifikasi middle-end juga daoat digunakan untuk menjalankan modul ini

3.    Terdapat hubungan yang sangat kuat antara PHP dan MySQL sehingga kemungkinan terjadinya inkompatibilitas interface antara kedua aplikasi sangat kecil sehingga script script PHP yang memanipulasi dan mengelola database MySQL dapat berjalan dengan mulus

4.    Pemrograman dengan PHP banyak dikuasai di Indonesia sehingga pengembangan aplikasi ke depan sangat mudah. Terlebih pemrograman dengan PHP terdiri dari script script yang berbasis tekstual dan mudah dibaca sehingga ketergantungan pada saat pengembangan ke depan dapat diminimalisir

5.    Baik Apache, PHP maupun MySQL merupakan program program yang tidak berbayar (freeware) dan dapat digunakan oleh siapapun secara gratis. Hal ini perlu mengingat masalah hak cipta dan kekayaan intelektualitas khususnya di bidang perangkat lunak menjadi sorotan utama dari masyarakat internasional.

6.    Apache, PHP dan MySQL berjalan di atas multi platform, dalam arti kata dapat dijalankan di atas Operating System yang berbasis Windows (Windows XP, Windows Server, Windows Vista maupun Windows 7) ataupun Operating System yang berbasis Linux. Walaupun demikian, karena pengoperasian Sistem Operasi yang berbasis Linux membutuhkan pengetahuan dan keterampilan komputer yang cukup dalam, maka disarankan agar aplikasi ini dijalankan di atas Sistem Operasi yang berbasis Windows dengan alasan bahwa Sistem Operasi ini sudah sangat awam dan digunakan di hampir setiap komputer personal.

Seperti yang telah disinggung di atas, syarat lingkungan kerja agar program ini berjalan dengan baik tidak rumit. Hampir semua komputer dengan kemampuan menengah dapat menjalankan program ini. Walaupun demikian ada beberapa syarat minimal yang dibutuhkan seperti:

1.    Komputer sudah terpasang atau terinstal sebuah Sistem Operasi, berbasis Windows ataupun Linux. Disarankan minimal menggunakan Sistem Operasi Windows XP, karena Sistem Operasi ini sudah masuk dalam tahapan yang stabil.

2.    Komputer mempunyai ruang kosong minimal 10Gbuntuk tempat penyimpanan di hard disk

3.    Memory minimal 512 MB

4.    CD ROM yang akan digunakan untuk meng-copy atau melakukan instalasi aplikasi

5.    Prosesor dengan kemampuan minimal Pentium III

6.    Graphic card dan layar monitor

7.    Mouse dan keyboard

8.    Aplikasi browser yang sudah terinstal dengan baik. Biasanya aplikasoi browser sudah terinstal pada saat instalasi sebuah Operating System. Pada Operating System yang berbasis Windows, sebuah browser dengan nama Internet Explorer sudah terinstal. Walaupun demikian sangat disarankan untuk melakukan instalasi aplikasi lain yang juga gratis atau tidak berbayar seperti Mozilla Firefox, Flock ataupun Google Chrome karena ketiga aplikasi browser ini jauh lebih ringan dan handal dibandingkan dengan Internet Explorer.

9.    Dilengkapi dengan GSM modem yang berfungsi sebagai penerima dan/atau pengirim SMS yang masuk/keluar

 

Contoh tampilan aplikasi penerima, pemroses dan pengiriman data SMS dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 5-6. Tampilan aplikasi penerima, pemroses dan pengiriman data SMS

Aplikasi ini akan terus berjalan selama aplikasi browser tidak ditutup. Aplikasi akan melakukan pembaruan pembacaan setiap 5 menit sekali. Pada tampilan aplikasi akan ditampilkan informasi:

a.    Sudah berapa kali aplikasi ini melakukan pembacaan. Dari gambar di atas terlihat aplikasi ini sudah melakukan 3 kali pembacaan SMS yang masuk.

b.    Banyaknya pesan SMS yang diproses.

c.    Banyaknya pesan SMS yang valid.

d.    Banyaknya pesan SMS yang tidak valid.

Patut diperhatikan bahwa pembukaan aplikasi ini seperti gambar di atas hanya untuk kepentingan penjelasan pada laporan ini. Pada kenyataannya, aplikasi ini dijalankan secara otomatis melalui scheduler (Kron pada Sistem Operasi berbasis Linux) dimana setiap 5 menit sekali aplikasi ini dijalankan pada latar (background running).

 

 

 

3. Sistem Penyajian Informasi

Agar informasi yang sudah dikumpulkan juga dapat diakses dan dilihat oleh pengguna-pengguna lainnya, maka diimplementasikan sistem yang mengakomodir penampilan data dan penghitungan/analisis terhadap data tersebut.

Metodologi penghitungan prediksi hasil panen berdasarkan Kerangka Sample Area sudah dijelaskan pada bagian-bagian sebelumnya sehingga pada bagian ini akan lebih difokuskan mengenai informasi apa saja yang dapat dilihat oleh pengguna.

Mengingat bahwa lokasi pengguna yang ingin memanfaatkan informasi ini sangat beragam, maka diputuskan untuk membangun aplikasi yang berbasis web. Dengan demikian yang dibutuhkan oleh pengguna hanyalah koneksi ke jaringan internet dan sebuah browser untuk mengakses aplikasi ini. Aplikasi ini juga dapat diakses dengan menggunakan smart mobile phone yang terkoneksi ke dalam jaringan internet.

Seperti halnya aplikasi untuk menerima, mengolah dan mengirimkan data SMS, aplikasi ini dibuat dengan menggunakan bahasa pemrograman PHP. Alasan pemilihan bahasa pemrograman ini sudah dipaparkan pada bagian sebelumnya.

Jika pengguna mengakses aplikasi ini melalui alamat http://neonet.bppt.go.id/padi maka akan tampil halaman muka seperti di bawah ini:

Gambar 5-7. Halaman Muka Aplikasi penerima, pemroses dan pengiriman data SMS

Aplikasi ini mengenal 2 tingkatan pengguna yaitu pengguna umum dan pengguna terotorisasi. Perbedaan antara kedua tingkatan tersebut adalah jika pengguna umum maka pengguna hanya dapat melihat informasi yang ditampilkan saja, sedangkan untuk pengguna terotorisasi selain dapat melihat informasi yang ditampilkan juga dapat merubah data yang tersimpan dalam basis data.

Di sebelah kiri dari halaman ini terdapat beberapa menu yaitu:

a.    Halaman utama

Merupakan halaman utama atau halaman awal dari aplikasi ini

b.    Wilayah cakupan

Menampilkan sebaran segmen-segmen yang dibangun pada Kegiatan Kerangka Sample Area Provinsi Jawa Barat

c.    Hasil perhitungan

Menampilkan hasil perhitungan prediksi hasil panen berdasarkan data survei yang masuk dan juga berdasarkan metodologi prediksi seperti yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya.

d.    Data ubinan

Menampilkan data ubinan berdasarkan data survei yang dikirimkan melalui media SMS.

e.    Manajemen data

Halaman ini hanya dapat diakses oleh pengguna yang terotorisasi dan pada halaman ini pengguna dapat melakukan perubahan atau manipulasi dari data yang sudah disimpan dalam basis data. Untuk masuk ke halaman ini pengguna harus melakukan Login dahulu dimana aplikasi akan menanyakan nama penngguna (user account) dan kata sandinya.

f.     Panduan

Halaman ini berisi panduan ringkas bagaimana mengoperasikan aplikasi ini. Walau secara umum aplikasi yang berbasis web mempunyai user interface yang sangat mudah, tetapi minimal membantu pengguna agar mendapatkan inormasi sesuai yang diinginkan dan diharapkan oleh pengguna.

g.    Kontak kami

Jika pengguna mempunyai pertanyaan, komentar, kritik dan saran tentang aplikasi ini, pengguna dapat memanfaatkan fitur ini. Korespondensi selanjutnya akan dilakukan melalui email ataupun telepon.

 

Jika pengguna ingin melihat hasil perhitungan dari data yang sudah dikumpulkan, pengguna dapat mengakses halaman "Hasil Perhitungan". Jika tautan atau menu ini dipilih maka akan tampil halaman sebagai berikut:

Gambar 5-8. Tampilan menu pilihan hasil perhitungan data

Pengguna diminta untuk memilih analisa pada survei yang keberapa dan juga wilayah (Kabupaten) yang akan dilihat hasilnya. Dengan mengklik tombol Proses maka aplikasi akan mulai menghitung dan menampilkan hasil perhitungannya seperti gambar di bawah ini.

Gambar 5-9. Tampilan hasil perhitungan data

 

Gambr 5-10. Tampilan hasil perhitungan data dalam bentuk pie-chart

Jika pengguna ingin melihat detail perhitungan, di bagian bawah halaman terdapat tombol "Lihat Detail". Jika tombol tersebut diklik maka akan muncul detail perhitungan sehingga menghasilkan informasi seperti di atas.

Gambar 5-11. Tampilan hasil perhitungan rinci untuk masing-masing segmen

Gambar 5-12. Tampilan hasil perhitungan proporsi tehadap luas sawah

 

Gambar 5-13. Tampilan hasil perhitungan masing-masing fase tumbuh